IMG 8117

 

IMG 8120

Dalam rangka menyatukan pandangan sebagai PK yang ada di Bapas dan Pos Bapas, pada hari Kamis 12 Mei 2016 bertempat di Aula Bapas Kelas I Semarang diadakan Rapat Koordinasi dan Penguatan PK Bapas dan PK Pos Bapas di Wilayah Kerja Bapas Kelas I Semarang. Acara yang dimoderatori oleh Bp. Kus Edi Riyanto, SH, MH ini menghadirkan tiga orang narasumber sebagai pengisi materi yaitu Bp. Syahrul Manan, Bc.IP, SIP selaku Kepala Bapas Kelas I Semarang, Bp. Catur Yuliwiranto, SST, MSW dan Ibu Ari Tris Octiasari, S.Psi dari Lapas Kelas I Semarang.

Bp. Syahrul Manan, Bc.IP, SIP memberikan materi tentang tugas utama sebagai PK yaitu membuat litmas, melakukan pendampingan, pengawasan dan pembimbingan. Untuk dapat membuat litmas yang baik dan tidak hanya copy paste ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Perihal permintaan litmas, apakah itu litmas awal, litmas integrasi, atau litmas asimilasi
  2. Masa tahanan, kapan tanggal ekspirasinya, kapan masa 2/3nya
  3. Pasal perkara, harus diperhatikan pasal yang dikenakan terutama untuk PK Anak, jangan sampai anak tersebut dikenakan pasal yang salah. Untuk itu diharapkan sebagai PK harus paham betul tentang KUHP dan SPPA
  4. Pengumpulan data, data dan informasi harus sesuai dengan kenyataan
  5. Rekomendasi
  6. Regulasi

Beliau juga mengatakan bahwa Pos Bapas tidak hanya sekedar nama sebagai PK tetapi juga harus kerja walaupun porsi atau volume kerjanya tidak sebesar PK di Bapas Induk. Untuk prosedur permintaan litmas harus ada permintaan dari Lapas atau Rutan yang dikirim ke Bapas terdekat kemudian dipertimbangakan oleh Kabapas apakah litmas tersebut dibuat oleh PK Bapas atau PK Pos Bapas.

Tugas PK lebih mendalam disampaikan oleh Bp. Catur Yuliwiranto, SST, MSW. Untuk beberapa tugas PK seperti membuat litmas, melakukan pendampingan baik sidang atau diversi, melakukan pengawasan hanya disampaikan secara garis besarnya saja. Beliau lebih menekankan pada proses pembimbingan terutama pada klien dewasa. Masalah yang sering timbul selama ini adalah banyaknya klien yang tidak absen selama tiga kali berturut-turut. Padahal di Bapas ada peraturan yang harus ditaati oleh klien salah satunya adalah wajib absen. Apabila klien tidak mentaati peraturan yang ada maka bisa saja dilakukan pencabutan status integrasinya, salah satunya adalah apabila tidak absen selama tiga kali berturut-turut. Namun hal ini menjadi dilema karena belum jelas siapakah yang akan menjadi eksekutor apabila dilakukan pencabutan status integrasi.

Dalam melakukan pembuatan litmas dibutuhkan keterampilan wawancara yang baik. Menurut Ibu Arti Tris Octiasari, S.Psi selaku psikolog, banyak PK yang melakukan wawancara kurang mendalam, hal ini mungkin disebabkan oleh permintaan litmas yang banyak dan terbatasnya waktu pembuatan litmas. Untuk melakukan wawancara kita harus memahami karakter atau kepribadian orang tersebut. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam wawancara antara lain adalah harus mencakup 5W+1H, harus mempunyai guide interview, wawancara tidak harus hanya dengan orang yang bersangkutan saja tetapi juga bisa dengan significan other seperti keluarga, saudara, teman sekamar. Teknik wawancara yang baik tidak bisa didapat hanya dengan satu atau dua kali wawancara tetapi harus sering, untuk itu Ibu Arti Tris Octiasari, S.Psi berharap agar suatu saat bisa diadakan pertemuan lagi khusus untuk berlatih teknik wawancara.

Sesi terakhir dalam acara ini adalah sesi tanya jawab, para PK terlihat sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan sampai waktu yang disediakan tidak mencukupi. Sebagai penutup dapat disimpulkan untuk kedepannya antara Lapas/Rutan dan Bapas dapat menjalin komunikasi dengan baik, para PK dapat meningkatkan kinerjanya dan memaksimalkan fungsi dari Pos Bapas.